Artikel

DEBAT ANTARA ILMU DAN KEBODOHAN

Posted on by

Suatu ketika di sebuah majelis, ilmu dan kebodohan saling bertemu. Dan terjadilah dialog diantara keduanya.

Majelis I

Maka berdirilah ilmu sambil bertopang pada tongkatnya. Kondisinya tampak tua, berumur dan lemah. Kemudian dia membaca basmalah, hamdalah, hasbalah dan hawqolah serta bersholawat dan salam atas sebaik-baik orang yang berilmu dan mengajarkan ilmu. Lalu ia berkata,

 

Posted on by

“TEKAD”  HARTA SIMPANAN YANG TAK PERNAH SIRNA

tidak akan berusaha menggapai keberhasilan orang yang tidak punya tekad dan semangat dalam hidup. jadilah orang yang punya tekad dan semangat bergelora serta tataplah jauh ke depan.  dengarkan Umar bin Abdul Aziz mengungkapkan tekad dan semangatnya, “Aku punya jiwa yang memiliki semangat dan tekad bergelora. ia menginginkan jadi amir dan ia mendapatkannya. ia menginginkan ke-khilafaahan dan ia mendapatkannya. dan sekarang aku sangat menginginkan surga dan aku berharap mendapatkannya”.

TIMBANG DIRIMU DENGAN AL-QUR’AN!

Posted on by

DI SURAT DAN AYAT APA DIRIMU DISEBUTKAN DI DALAM AL-QUR’AN?

Diriwayatkan bahwasanya Al-Ahnaf bin Qois suatu hari sedang duduk. Lalu terlintas dalam pikirannya firman Allah Ta’ala,

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat penyebutanmu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya?”.[1]

Maka ia berkata, “Tolong ambilkan mushafku, aku ingin mencari dimana diriku disebut Allah Ta’ala. sehingga aku tahu siapa aku dan aku seperti siapa?”.

Lalu dia membaca mushaf dan sampai pada ayat yang menyebutkan suatu kaum,

“di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”.[2]

Lalu dia membaca ayat yang menyebutkan tentang orang-orang,

“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”[3]

Dan ia membaca tentang orang-orang,

“dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin), atas diri mereka sendiri, Sekalipun mereka dalam kesusahan. dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung”.[4]

Dan ia juga membaca ayat yang menceritakan,

“dan (bagi) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan- perbuatan keji, dan apabila mereka marah mereka memberi maaf.”[5]

Ia berkata dengan merendah, “Ya Allah, aku tahu diriku tidak termasuk dalam golongan mereka”.

APAKAH ENGKAU MENCINTAI AL-QUR’AN?

Posted on by

Apakah engkau mencintai Al-Qur’an?

Kalau kita ajukan pertanyaan ini kepada salah seorang kaum muslimin, spontan ia akan menjawab, “Ya .. bagaimana aku tidak mencintainya? Aku adalah seorang muslim, ayah ibuku juga muslim?!

Akan tetapi, cobalah Tanya dirimu sendiri, apakah engkau gembira bertemu dengan Al-Qur’an dan duduk bersamanya sekalipun hanya setengah jam tanpa bosan? Adakah perasaan rindumu untuk bertemu dengannya, atau barangkali engkau memaksakan dirimu untuk bertemu dengannya? Apakah engkau menjadikannya sebagai reverensi dalam menyelesaikan problematika hidupmu ataukah ia jauh dari setiap urusanmu? Apakah engkau mematuhi perintah-perintah dan larangan-larangannya?

Bagaimana mungkin dikatakan mencintai Al-Qur’an orang yang tidak sanggup duduk bersamanya walau hanya beberapa menit saja. Padahal ia sanggup duduk berjam-jam menahan kantuk di depan layar kaca atau dunia maya?! Bagaimana bisa dipercaya seseorang mengaku mencintai Al-Qura’an sementara dia jarang kembali kepadanya atau hanya sekedar membacanya di bulan Ramadhan saja?! Apa benar cinta seseorang kepada Al-Qur’an sementara dia melanggar perintah dan larangannya di siang dan malam?!

Utsman Rodhiyallahu ‘anhu berkata, “Kalau hati kalian itu suci (dari dosa) kalian tidak pernah merasa puas untuk membaca dan mempelajari Kalam Robb kalian”. (‘Indamaa Yahlu Al-Masa’ : 246)

LANJUTAN ADAB KEPADA ALLAH TA’ALA

Posted on by

ADAB YANG KETIGA : TAKUT KEPADA ALLAH TA’ALA.

Ananda, takut kepada Allah Ta’ala adalah sifat yang mulia dan kedudukan yang tinggi. Ia adalah bukti nyata keimanan.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan takutlah kalian kepada-Ku jika kalian benar-benar beriman”. (Ali Imron)

فلا تخشوهم واخشونِ

“Maka janganlah kamu takut kepada mereka, dan takutlah kamu kepada-Ku”. (Al-Baqoroh)